proses penulisan karya ilmiah, dan pentingnya memperhatikan notasi ilmiah
pembahasan :
Menurut Munawar Syamsudin dalam buku Dasar-dasar dan
Metode Penulisan Ilmiah (1994), tulisan ilmiah adalah naskah yang membahas
suatu masalah tertentu, atas dasar konsepsi keilmuan tertentu, dengan memilih
metode penyajian tertentu secara utuh, teratur dan konsisten.
Berikut langkah-langkah dalam menyusun karya ilmiah:
1. Menentukan topik atau tema Topik atau tema
merupakan inti atau pokok pembahasan dalam karya ilmiah. Tema atau topik untuk
tugas sekolah dan sejenisnya sering kali sudah ditentukan oleh pengajar.
Peserta didik tinggal menyusun karya ilmiah berdasarkan tema yang ditawarkan.
Lain halnya bila harus menentukan sendiri tema atau topik karya ilmiah. Sebisa
mungkin, tema atau topik yang ingin diangkat harus sesuai dengan kemampuan si
penyusun karya ilmiah. Baik dari segi objek penelitian, teori dan metodologi
yang digunakan, sampai jenis karya ilmiah perlu dipertimbangkan dalam
menentukan topik. Hal ini perlu diperhatikan agar penulisan karya ilmiah tidak
berhenti di tengah jalan karena tidak sesuai dengan bidang studi atau fokus
keilmuan penulis.
2. Mengumpulkan bahan Bahan yang dimaksud dapat
berupa pustaka atau benda-benda yang berkaitan dengan penelitian. Untuk karya
ilmiah yang menggunakan percobaan atau eksperimen dengan ilmu eksakta, butuh mengumpulkan
bahan dan alat tertentu sesuai kebutuhan penelitian. Namun untuk karya ilmiah
berbasis analisis dan teori, maka sumber pustaka dapat bewujud cetak maupun
elektronik. Contohnya buku, jurnal, dokumen resmi, berita, atau sumber-sumber
dari internet.
3. Menentukan hipotesis Hipotesis adalah anggapan,
argumen, atau gambaran penulis soal hasil penelitian. Hipotesis ditulis di
landasan teori pada bagian pendahuluan. Menyusun hipotesis dapat dilakukan
dengan membaca penelitian sebelumnya. Kita juga dapat mengira-ngira sejauh mana
teori yang kita gunakan dapat dipadukan dengan objek penelitian. Hipotesis
tidak melulu benar dan cocok dengan hasil penelitian, tetapi harus logis dan
objektif.
4. Menyusun rancangan penelitian Rancangan penelitian
berkaitan dengan jadwal atau waktu yang kita butuhkan dalam menyusun karya
ilmiah. Batasan waktu sangat berguna untuk penulisan karya ilmiah dengan metode
random sampling dan metode wawancara, agar karya ilmiah tetap fokus dan tidak
menyimpang dari tujuan awal. Rancangan penelitian dibuat berdasarkan kemampuan
penulis mengumpulkan data dan menganalisisnya.
5. Melaksanan percobaan, turun ke lapangan, atau
kajian data Tahap ini dilakukan berdasarkan bidang studi yang bersangkutan.
Untuk penulisan karya ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan alam, maka perlu
melakukan percobaan atau eksperimen. Untuk penulisan karya ilmiah dalam bidang
ilmu sosial atau budaya beberapa perlu menemui narasumber atau melihat langsung
kondisi sosial di lapangan. Selebihnya, karya ilmiah dapat disusun dengan
mengkaji data atau fakta yang sudah tersedia menggunakan metodologi yang sudah
dipilih.
6. Melakukan pengumpulan data Data yang didapat
selama eksperimen, turun ke lapangan, atau kajian pustaka dkumpulkan. Penulis
karya ilmiah memilah data mana saja yang perlu dimasukkan, disortir, atau
menjadi fokus utama dalam karya ilmiah.
7. Merumuskan hasil penelitian Setelah semua tahap
dilakukan, maka penyusun karya ilmiah dapat menuliskan kesimpulan. Kesimpulan
tersebut berupa hasil penelitian. Penulis menjabarkan apakah hipotesis dan
hasil penelitian sejalan, atau melenceng dari perkiraan. Bila melenceng,
penulis wajib memperkirakan bagian mana saja yang menjadi kekurangan selama
eksperimen atau pengumpulan data. Hasil penelitian tidak bisa didapat bila
langkah-langkah sebelumnya tidak dilakukan atau terlewati.
sumber :
https://www.kompas.com/skola/read/2020/11/04/145354369/langkah-langkah-menulis-karya-ilmiah?page=all
pentingnya memperhatikan notasi ilmiah adalah
Apa yang dimaksud dengan karya ilmiah atau karya
tulis? Karya ilmiah adalah sebuah tulisan ilmiah seorang peneliti atau beberapa
dari hasil riset pada bidang keilmuan tertentu. Misalnya dalam bidang
kedokteran, seorang peneliti meriset mengenai perkembangan penyakit tertentu
pada suatu masa. Hasil riset tersebut ditulis dalam bentuk laporan ilmiah dan
dipublikasikan. itulah yang disebut dengan karya tulis ilmiah. Dalam bidang
sosial, misalnya seorang peneliti meriset mengenai nilai-nilai budaya tertentu.
Hasilnya dituangkan dalam bentuk laporan tertulis. maka itu juga disebut
sebagai karya tulis ilmiah.
Bagaimana karya ilmiah yang baik? Karya ilmiah yang
baik harus mereferensi kepada penelitian yang lain yang sebelumnya telah
dilakukan. Karya tulis ilmiah tidak boleh subjektif atau menggunakan perspektif
peneliti. tentu saja harus objektif atau pendeketan fakta. Karya tulis ilmiah
tidak boleh lepas konteks. Artinya harus memperhatikan penelitian-penelitian
sebelumnya pada disiplin ilmu terkait.
Bagaiman proses publikasi ilmiah? Sebelum sebuah karya
tulis ilmiah tentunya harus melalui review dari ahli yang mengerti pada
disiplin ilmu tersebut. Karya ilmiah tersebut harus diseleksi apakah sudah
memenuhi unsur-unsur penting bagi karya ilmiah. Jika telah memenuhi maka itu
apat dipublikasikan. Unsur-unsur penting tersebut meliputi bagaimana format
penulisan karya ilmiah, konten, ide orisinal, dan bagaimana kutipan terhadap
karya tulis ilmiah yang lain.
Bagaimana peran karya ilmiah dalam pengembangan
keilmuan? Karya tulis tulis ilmiah memegang peranan penting dalam pengembangan
dan penyebaran keilmuan. Itulah sebabnya di setiap perguruan tinggi mewajibkan
mahasiswanya untuk menulis karya ilmiah sebelum menyelesaikan studinya. Melalui
karya tulis ilmiah, sebuah ilmu terus terbarukan. Setiap peneliti terus menerus
memperbaharui hasil temuannya, baik oleh peneliti itu sendiri atau oleh
peneliti yang lain. Melalui karya tulis ilmiah pula, temuan-temuan terbaru
disebarkan melalui jurnal dan tulisan-tulisan.
sumber :
https://www.globalstatistik.com/pentingnya-karya-ilmiah-dalam-pengembangan-ilmu/